#022

Last Monday, 27th January 2019, I got invited by one of promising Start Up from Bandung in Artificial Intelligence Industry, named Talkabot, for their first ever event, Seller Story vol. 1: Online vs. Offline, located at Block71 Bandung. Following is an article written by Tristia Riskawati, one of Talkabot team, as a recap from the event. Very well written in Bahasa, enjoy!


Official Poster of the Event

Offline Business, or Online Business?

Hal tersebut kerapkali menjadi pertimbangan pebisnis ketika hendak memasarkan produknya. Offline store memiliki kekuatan untuk membangun trust dan hubungan personal pada customer-customer-nya. Sedangkan manfaat dari online store pun sangat jelas, seperti tracking customer yang lebih detail; iklan yang lebih tepat sasaran; proses otomatisasi dalam pelayanan pesanan; dan lain sebagainya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Distra Vantari, CEO dari Talkabot.ID. Offline store lebih menawarkan trust dan engagement. Sedangkan online store baginya sangat pula diperlukan, mengingat 50% dari populasi Indonesia sudah menggunakan internet. Distra menitikberatkan data sebagai sesuatu yang penting bagi saat ini.

“Betapa pentingnya data di zaman ini. Kalau offline kita nggak akan bisa track dan simpan data secara otomatis, padahal customer yang datang bisa jadi sangat banyak,” ujar Distra lewat pesan singkat, Kamis (24/01). “Jika menggunakan chatbot atau website, catat data pelanggan akan jauh lebih mudah.”

Distra pun merujuk pada Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Baginya, AI dapat menganalisa data dengan jumlah sangat banyak. Analisis ini dapat membantu brand dalam membuat keputusan dalam promosi, iklan, launching produk baru, dan lain sebagainya.

Kendati demikian, Distra tertarik untuk menggali perspektif pelaku bisnis yang masih berfokus pada offline store. Oleh karena itu, pada Senin, 28 Januari 2019, Distra dan bisnisnya (Talkabot.ID) mengadakan talkshow bertajuk “Business Epic Battle 01: Online of Offline Store”. Acara yang berlangsung di Block71 Bandung ini menghadirkan General Manager HGL House Mursi Adikusumah (mewakili Offline Store); dan Managing Director POT Branding House Alby Padmakusumah (mewakili Online Store).

Offline side
Dalam penyampaian argumennya, Mursi Adikusumah berangkat dari experience unik yang dirasakan oleh customer. Aktivitas-aktivitas offline lebih menjangkau klien secara personal. Pemilik bisnis mengenal langsung customer yang ia hadapi. Begitu pun customer memiliki experience unik dengan langsung bertemu dengan fisik brand tersebut. 

“Harus kuat story behind the brand kita. That’s why I am on offline store, supaya bisa merangkai story dari brand saya,” ujar Mursi. Hal tersebut juga berlaku pada pihak yang mempromosikan brand-nya. Mursi tidak memilih membayar mahal endorser untuk mempromosikan produknya. Alih-alih demikian, ia lebih memilih untuk menguatkan relationship dengan customernya, dan membiarkan customernya mempromosikan secara organik. 

Bahkan, band The S.I.G.I.T.  tertarik untuk mempromosikan produk denim Mursi saat itu dalam single mereka beberapa tahun silam. Hal ini karena kesukaan The S.I.G.I.T terhadap merk denim tersebut. “Kita saling support, tapi segi bisnis nya kita bagi hasil,” ujar Mursi.

Kendati demikian, jangkauan atau volume yang direngkuh oleh offline-based store tidak seluas yang dapat dijangkau oleh online. Hal tersebut diakui oleh Mursi. Namun, lagi-lagi Mursi mengacu pada pengalaman offline yang lebih kaya dalam menciptakan interaksi yang kuat antara brand dan customer.

Tentu, ketika hendak melebarkan sayap, brand berbasis offline harus mengeluarkan biaya yang cenderung lebih mahal untuk semisal pembukaan toko baru. Namun, bagi Mursi hal tersebut dapat diatasi dengan business plan yang matang. 

“Yang namanya bisnis, dua sampai tiga tahun pertama bakalan bleeding (berdarah-darah.red). Perlu dipersiapkan dua bulan lagi targetnya apa, satu semester lagi apa.”

Online side
Sedangkan Alby Padmakusumah berangkat dari market behavior yang sudah berubah. Perilaku market kini didominasi oleh aktivitas online. Konsumen sudah dapat melakukan self-research, sesimpel memilih seri smartphone yang cocok untuknya melalui browsing. “Too many choices, too little time,” ujar Alby.

Alby pun mengutip pendapat Gary Vaynerchuk, “If you’re not online, then you’re out of business.”  Dalam mengembangkan mindset berbisnisnya pun, ia mengacu pada konsep inbound marketing. 

Inbound marketing sendiri merupakan strategi marketing dimana brand berupaya agar calon konsumen tertarik ingin mencari brand tersebut. Strategi yang paling umum dilakukan adalah menyediakan konten-konten yang mampu menarik perhatian segmen yang dituju. Strategi content marketing dan targetting via online pun gencar dilakukan dalam proses inbound marketing. Terlebih, media sosial dan platform-platform lainnya memiliki rekapitulasi data yang akurat seperti reach, view, demographic data, dan lain sebagainya.

Dalam epic battle, Senin (28/1) pun akhirnya timbul pertanyaan, bagaimana menyiasati adanya penipuan dalam bisnis online? Bagi Alby, ‘suksesnya’ penipuan biasanya dikarenakan customer yang tergoda dengan barang yang serupa (dengan brand resmi), tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Tetapi, rupanya barang yang datang sangat tak sesuai ekspektasi.
“Kita sebagai customer memang baiknya waspada, mawas diri, dan jeli, dalam menilai brand yang menjual produk atau jasa tersebut,” saran Alby.


For more info about TalkabotID, please call: Distra (081221520071)Website: talkabot.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.